:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape.png,553,20,0)/kly-media-production/medias/2762595/original/097335200_1553683095-eddy-lim-01.jpg)
Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Esports Indonesia (Indonesian Esports Association, IeSPA), Eddy Lim, tidak setuju jika PlayerUnknown's Battlegrounds (PUBG) dikatakan sebagai gim kekerasan. Menurutnya, PUBG merupakan gim yang mengharuskan gamer untuk lihai mengatur strategi.
"Saya pribadi melihatnya bukan gim kekerasan, tapi strategi. Karena dalam gim ini kan, misalnya, gamer harus mengatur strategi untuk masuk ke suatu wilayah," tutur Eddy di kantor MUI pada Selasa (26/3/2019), kemarin.
Ia tak menampik memang ada sedikit adegan kekerasan, tapi hal itu tidak serta merta membuat PUBG mendapat label sebagai gim kekerasan.
"Mungkin kekerasannya agak kecil, karena kan otak kita lebih ke arah mengatur strategi ketika memainkannya. Itu pendapat pribadi saya," tuturnya.
Eddy mengatakan, saat ini ada sekira 20-30 juta pemain PUBG di Indonesia. Tapi hak itu tidak lantas membuat semua pemainnya melakukan kekerasan atau meniru adegan di dalam gim tersebut di dunia nyata.
"Kalau memang ada implikasi jelek, kita lihat dari semuanya itu apa? Justru sisi lainnya mereka jadi tidak mau belajar atau terlalu lama bermain, dan ini tidak hanya terjadi karena PUBG saja, tapi juga gim lain," sambungnya.
https://www.liputan6.com/tekno/read/3927462/iespa-pubg-bukan-gim-kekerasanBagikan Berita Ini
0 Response to "IeSPA : PUBG Bukan Gim Kekerasan"
Post a Comment